Terbaring lemas di atas sebuah tempat yang sempit dengan suntikan di tangannya dan sebuah cairan mengalir masuk ke tubuhnya. Mungkin tangannya sudah mulai bengkak. Tapi apa boleh buat, hanya kepada alat-alat itu ia bisa bertahan. Mungkin tubuh itu terbaring lemah di sana. Tapi dari sini, aku bisa melihat dan menjaga semua orang-orang yang ada di sekitarku. Mengamati siapa saja yang kehilanganku. Mereka, orang-orang yang selalu ada di sampingku dan kehilanganku.
Setiap pagi dia
selalu mengganti bunga di kamarku sebelum ia melangkahkan kakinya ke gedung
itu. Tempatnya mencari ilmu. Pemuda jurusan sastra itu sangat setia menemani
tubuhku yang terbaring lemas. Setiap hari selalu ada surat dan setangkai bunga
yang dia letakkan di atas meja.
"Bernadette! Dipanggil dosen
tuh," kata seorang gadis yang aku pun tak mengenalnya. "Oke, makasih
ya," jawabnya dengan ramah. Gadis remaja berambut ikal dan lebat berwarna
coklat kemerahan itu segera melangkahkan kakinya ke ruang dosen.
"Permisi pak. Bapak memanggil
saya?"
"Silahkan duduk."
"Ada apa ya pak?"
"Bernadette, bapak ingin meminta kamu bekerjasama dengan David untuk membuat kinerja ilmiah."
"Tapi kenapa harus kami pak?"
"Karena kalian yang paling bisa bapak percaya."
"Tapi saya gak yakin pak."
"Bapak yakin kalian bisa."
"Emm.. saya usahakan pak."
"Silahkan duduk."
"Ada apa ya pak?"
"Bernadette, bapak ingin meminta kamu bekerjasama dengan David untuk membuat kinerja ilmiah."
"Tapi kenapa harus kami pak?"
"Karena kalian yang paling bisa bapak percaya."
"Tapi saya gak yakin pak."
"Bapak yakin kalian bisa."
"Emm.. saya usahakan pak."
Dalam waktu dua minggu, Bernadette harus
mempersiapkan semua kinerja ilmiah itu bersama David, orang yang belum
dikenalnya sama sekali.
"Permisi, kamu David kan?" Tanya
Bernadette. "Iya Ber. Masa kamu lupa?" Jawab David dengan bingung.
"Ha? Lupa apa ya?" Jawab Bernadette dengan ekspresi bingung. David
memilih untuk diam dan tidak ingin mengungkit masa lalu yg kelam itu. "Oh
tidak. Mungkin aku salah orang. Ada apa ya?" Tanya David. "Kita
disuruh membuat sebuah kinerja ilmiah," jelas Bernadette. "Tapi kan
aku sastra," jawab David dengan wajah bingung. "Justru itu, kamu
diminta membantuku membuat tulisannya. Aku berencana membuat kinerja ilmiah
tentang lingkungan. Aku ingin membuat sebuah alat yg bisa membantu para penyapu
jalan untuk membersihkan sampah-sampah di pinggir jalan," terang
Bernadette. "Idemu sangat menarik. Nanti sore aku tunggu di taman dekat
kampus," jawab David. ‘Ber, kamu gak berubah, tetap bijak dan peduli
lingkungan dan sesama. Aku bangga sama kamu,’ batin David.
Seperti
janji Bernadette, sore itu mereka bertemu di taman dekat kampus, di mana di
sana merupakan tempat belajar para mahasiswa dan mahasiswi. Suasana yang tenang
membuat mereka merasakan ketenangan belajar dan mengerjakan tugas atau sekedar
berkumpul dan jalan-jalan. "Hai Ber," sapa David. "Hai juga.
Gimana nih kinerja kita?" Sore itu mereka habiskan di taman untuk
mengerjakan kinerja ilmiah itu. Mereka yang awalnya tidak saling mengenal satu
sama lain, akhirnya menjadi akrab dan layaknya sepasang kekasih. Seminggu telah
berlalu, kinerja itu sudah hampir selesai. Mereka berdua merasa sangat bangga
bisa menyelesaikan semua itu.
‘Gue
gak bisa begini terus. Gue harus ingetin Bernadette tentang kita di masa lalu.
Tapi gimana ya?’ Batin David. Mulai saat itu, David selalu mengajak Bernadette
ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di masa lalu. Di sana, David
selalu bercerita seolah-olah bukan Bernadette perempuan yang diceritakannya.
Hari
ini adalah hari ke-13 pembuatan karya ilmiah itu. Itu berarti besok semua karya
ilmiah tersebut harus dikumpulkan apapun hasilnya. Dan merupakan hari terakhir
mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Semenjak dua hari yang lalu semua usaha
yang dilakukan David untuk mengingatkan kejadian di masa lalu sudah hampir
berhasil. Perlahan Bernadette mengingat semua kejadian itu.
"Ber, kamu inget gak kita di masa
lalu?" Tanya David.
"Kita? Maksudnya? Tolong
ceritain."
"Dulu kita sepasang kekasih. Orang
tua kita sudah setuju dan rencananya setelah
aku lulus S2 dan kamu lulus S1, kita akan tunangan. Di sinilah
tempat kita dalam suka dan duka. Sampai akhirnya, waktu kita duduk di kelas
tiga SMA, kamu kecelakaan ketika
hari perpisahan kita, dan koma di rumah sakit selama seminggu. Setelah kamu bangun, aku berharap kita bisa bersama
lagi. Tapi semua itu salah. Benturan keras di kepalamu membuat kamu hilang ingatan. Bahkan kamu gak inget
siapa orang tua kamu," cerita David.
"Vid, aku pulang dulu ya. Kinerjanya tolong kamu bawa besok. Kita ketemu disana," pamit Bernadette.
David berharap semoga Bernadette bisa
mengingat semuanya karena ceritamya tadi.
Pagi
itu tidak seperti hari-hari sebelumnya. Pagi itu tampak mendung, sang surya
tampak malu dan kabut seperti tak ingin beranjak dari tempatnya. Burung-burung
pun tidak berkicau. Ada apa ini?
Tanya David dalam hati. Tepat pukul sembilan David telah berdiri di tempat
pengumpulan kinerja ilmiah itu. Sudah dua jam dia menunggu, dan Bernadette pun
tak kunjung datang.
Kringggg......
Setelah menerima telepon itu, David langsung menjatuhkan karya ilmiah itu dan bergegas menuju motornya. Beruntung karya ilmiah itu ditemukan oleh orang yang baik hati dan diserahkan kepada panitia tanpa kurang satupun.
Motor satria hitam itu langsung menuju
sebuah gedung yang sangat tidak disenangi oleh kebanyakan orang. Gedung yang
pada dindingnya terdengar suara jeritan, tangisan, dan doa. Di sana terbaring
lemah seorang gadis dengan balutan luka di kepalanya dan sekang infus di hidung
dan di tangannya.
Pagi itu kepala Bernadette terasa pusing, tetapi ia memaksakan untuk pergi menuju tempat pengumpulan karya ilmiah itu. Alhasil, ia tak melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggu menghantam tubuhnya dengan kencang. Semua gelap. Ia tak ingat apa yang terjadi saat itu.
Sudah sebulan lebih Bernadette dirawat di ruang UGD. Namun ia tak kunjung sadar dari koma nya. Alat-alat medis itu yg menjadi tumpuannya untuk hidup. Setiap pagi David selalu datang untuk mengganti setangkai bunga di kamar Bernadette, dan memasukkan surat harian nya pada sebuah kotak yg akan dibaca oleh Bernadette pada saat dia sadar nanti.
-valencia

0 comments:
Post a Comment