, ,

Cerpen - KITA



   Terbaring lemas di atas sebuah tempat yang sempit dengan suntikan di tangannya dan sebuah cairan mengalir masuk ke tubuhnya. Mungkin tangannya sudah mulai bengkak. Tapi apa boleh buat, hanya kepada alat-alat itu ia bisa bertahan. Mungkin tubuh itu terbaring lemah di sana. Tapi dari sini, aku bisa melihat dan menjaga semua orang-orang yang ada di sekitarku. Mengamati siapa saja yang kehilanganku. Mereka, orang-orang yang selalu ada di sampingku dan kehilanganku.

Setiap pagi dia selalu mengganti bunga di kamarku sebelum ia melangkahkan kakinya ke gedung itu. Tempatnya mencari ilmu. Pemuda jurusan sastra itu sangat setia menemani tubuhku yang terbaring lemas. Setiap hari selalu ada surat dan setangkai bunga yang dia letakkan di atas meja.

–˜

"Bernadette! Dipanggil dosen tuh," kata seorang gadis yang aku pun tak mengenalnya. "Oke, makasih ya," jawabnya dengan ramah. Gadis remaja berambut ikal dan lebat berwarna coklat kemerahan itu segera melangkahkan kakinya ke ruang dosen.  

            "Permisi pak. Bapak memanggil saya?"
            "Silahkan duduk."
            "Ada apa ya pak?"
            "Bernadette, bapak ingin meminta kamu bekerjasama dengan David untuk membuat kinerja ilmiah."
            "Tapi kenapa harus kami pak?"
            "Karena kalian yang paling bisa bapak percaya."
            "Tapi saya gak yakin pak."
            "Bapak yakin kalian bisa."
            "Emm.. saya usahakan pak."

Dalam waktu dua minggu, Bernadette harus mempersiapkan semua kinerja ilmiah itu bersama David, orang yang belum dikenalnya sama sekali.

"Permisi, kamu David kan?" Tanya Bernadette. "Iya Ber. Masa kamu lupa?" Jawab David dengan bingung. "Ha? Lupa apa ya?" Jawab Bernadette dengan ekspresi bingung. David memilih untuk diam dan tidak ingin mengungkit masa lalu yg kelam itu. "Oh tidak. Mungkin aku salah orang. Ada apa ya?" Tanya David. "Kita disuruh membuat sebuah kinerja ilmiah," jelas Bernadette. "Tapi kan aku sastra," jawab David dengan wajah bingung. "Justru itu, kamu diminta membantuku membuat tulisannya. Aku berencana membuat kinerja ilmiah tentang lingkungan. Aku ingin membuat sebuah alat yg bisa membantu para penyapu jalan untuk membersihkan sampah-sampah di pinggir jalan," terang Bernadette. "Idemu sangat menarik. Nanti sore aku tunggu di taman dekat kampus," jawab David. ‘Ber, kamu gak berubah, tetap bijak dan peduli lingkungan dan sesama. Aku bangga sama kamu,’ batin David.

            Seperti janji Bernadette, sore itu mereka bertemu di taman dekat kampus, di mana di sana merupakan tempat belajar para mahasiswa dan mahasiswi. Suasana yang tenang membuat mereka merasakan ketenangan belajar dan mengerjakan tugas atau sekedar berkumpul dan jalan-jalan. "Hai Ber," sapa David. "Hai juga. Gimana nih kinerja kita?" Sore itu mereka habiskan di taman untuk mengerjakan kinerja ilmiah itu. Mereka yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain, akhirnya menjadi akrab dan layaknya sepasang kekasih. Seminggu telah berlalu, kinerja itu sudah hampir selesai. Mereka berdua merasa sangat bangga bisa menyelesaikan semua itu.

            ‘Gue gak bisa begini terus. Gue harus ingetin Bernadette tentang kita di masa lalu. Tapi gimana ya?’ Batin David. Mulai saat itu, David selalu mengajak Bernadette ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di masa lalu. Di sana, David selalu bercerita seolah-olah bukan Bernadette perempuan yang diceritakannya.
     
            Hari ini adalah hari ke-13 pembuatan karya ilmiah itu. Itu berarti besok semua karya ilmiah tersebut harus dikumpulkan apapun hasilnya. Dan merupakan hari terakhir mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Semenjak dua hari yang lalu semua usaha yang dilakukan David untuk mengingatkan kejadian di masa lalu sudah hampir berhasil. Perlahan Bernadette mengingat semua kejadian itu.

"Ber, kamu inget gak kita di masa lalu?" Tanya David.
"Kita? Maksudnya? Tolong ceritain."
"Dulu kita sepasang kekasih. Orang tua kita sudah setuju dan rencananya setelah     aku lulus S2 dan kamu lulus S1, kita akan tunangan.  Di sinilah tempat kita dalam suka dan duka. Sampai akhirnya, waktu kita duduk di kelas tiga SMA, kamu kecelakaan ketika hari perpisahan kita, dan koma di rumah sakit selama seminggu. Setelah kamu bangun, aku berharap kita bisa bersama lagi. Tapi semua itu salah. Benturan keras di kepalamu membuat kamu  hilang ingatan. Bahkan kamu gak inget siapa orang tua kamu," cerita David.
"Vid, aku pulang dulu ya. Kinerjanya tolong kamu bawa besok. Kita ketemu disana," pamit Bernadette.
David berharap semoga Bernadette bisa mengingat semuanya karena ceritamya tadi.

–˜

            Pagi itu tidak seperti hari-hari sebelumnya. Pagi itu tampak mendung, sang surya tampak malu dan kabut seperti tak ingin beranjak dari tempatnya. Burung-burung pun tidak berkicau. Ada apa ini? Tanya David dalam hati. Tepat pukul sembilan David telah berdiri di tempat pengumpulan kinerja ilmiah itu. Sudah dua jam dia menunggu, dan Bernadette pun tak kunjung datang.

Kringggg...... 

Setelah menerima telepon itu, David langsung menjatuhkan karya ilmiah itu dan bergegas menuju motornya. Beruntung karya ilmiah itu ditemukan oleh orang yang baik hati dan diserahkan kepada panitia tanpa kurang satupun.
           
Motor satria hitam itu langsung menuju sebuah gedung yang sangat tidak disenangi oleh kebanyakan orang. Gedung yang pada dindingnya terdengar suara jeritan, tangisan, dan doa. Di sana terbaring lemah seorang gadis dengan balutan luka di kepalanya dan sekang infus di hidung dan di tangannya.       

      Pagi itu kepala Bernadette terasa pusing, tetapi ia memaksakan untuk pergi menuju tempat pengumpulan karya ilmiah itu. Alhasil, ia tak melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggu menghantam tubuhnya dengan kencang. Semua gelap. Ia tak ingat apa yang terjadi saat itu.

      Sudah sebulan lebih Bernadette dirawat di ruang UGD. Namun ia tak kunjung sadar dari koma nya. Alat-alat medis itu yg menjadi tumpuannya untuk hidup. Setiap pagi David selalu datang untuk mengganti setangkai bunga di kamar Bernadette, dan memasukkan surat harian nya pada sebuah kotak yg akan dibaca oleh Bernadette pada saat dia sadar nanti.
 


-valencia


0 comments:

Post a Comment